Tiga Siswa SMAN 1 Garut Harumkan Nama Daerah lewat Inovasi Akar Wangi di Kompetisi UI

Tiga Siswa SMAN 1 Garut Harumkan Nama Daerah lewat Inovasi Akar Wangi di Kompetisi UI

GARUT – Tiga siswa SMAN 1 Garut berhasil mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat nasional setelah meraih Juara 1 dan Most Favorite Business Plan dalam ajang 10th Adfest Business Plan Competition 2026 Universitas Indonesia.

Mereka adalah Ahkamil Rahman Asyatibi, Fardan Pratama, dan Salwa Nur Aminatul Fitri yang tergabung dalam Team SmansaJuara.

Dalam kompetisi tersebut, ketiganya mengangkat potensi khas Kabupaten Garut berupa akar wangi melalui konsep bisnis bernama NUWANGI.

Akar wangi yang selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas daerah dikembangkan dalam gagasan hilirisasi menjadi produk yang memiliki nilai tambah, seperti parfum, minyak atsiri, hingga berbagai produk kerajinan.

Ahkamil Rahman Asyatibi mengatakan, tim sejak awal ingin membawa konsep bisnis yang memiliki keterkaitan langsung dengan daerah asal mereka.

“Kami ingin membawa sesuatu yang memang berasal dari Garut. Akar wangi sudah dikenal sebagai salah satu potensi daerah, tetapi kami melihat masih banyak peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah,” ujar Ahkamil.

Menurutnya, kompetisi tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan lokal Garut kepada peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

“Bagi kami, ini bukan hanya soal lomba. Kami juga ingin menunjukkan bahwa potensi lokal Garut bisa diolah menjadi gagasan bisnis yang modern dan memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh,” katanya.

Perjalanan SmansaJuara hingga meraih gelar juara pertama harus melalui persaingan ketat dengan ratusan peserta dari tingkat SMA.

Setelah melewati sejumlah tahapan, hanya lima tim yang berhasil mendapatkan tempat di babak final.

Selain SmansaJuara, finalis lainnya yakni Malebbi dari SMAN 11 Pinrang, Tim Bismillah dari SMA Negeri 3 Sidoarjo, CangkangEmas dari SMAK IPEKA Sunter, dan NPD dari SMAN 28 Jakarta.

Fardan Pratama mengatakan, tantangan terbesar dalam kompetisi adalah mengubah gagasan mengenai akar wangi menjadi rancangan bisnis yang bisa dipertanggungjawabkan.

Tim harus memikirkan berbagai aspek, mulai dari produk, target konsumen, strategi pemasaran, hingga keberlanjutan bisnis.

“Awalnya kami memang mengangkat akar wangi sebagai potensi lokal, tapi setelah masuk ke proses penyusunan business plan, kami harus benar-benar memikirkan bagaimana produk ini bisa diterima pasar dan bagaimana bisnisnya bisa berjalan,” ujar Fardan.

Ia mengaku keberhasilan menembus lima besar sudah menjadi pencapaian yang tidak mereka anggap ringan.

“Ketika tahu kami masuk lima besar saja sudah sangat senang. Apalagi akhirnya bisa menjadi juara pertama. Itu menjadi pengalaman yang sangat berharga karena kami bersaing dengan tim-tim yang juga memiliki ide bagus,” katanya.

Pada hasil akhir, SmansaJuara berhasil menempati posisi pertama sekaligus memperoleh penghargaan Most Favorite Business Plan.

Salwa Nur Aminatul Fitri mengatakan capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena konsep yang mereka bawa berasal dari potensi lokal Garut.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur. Yang membuat kami lebih bangga karena ide yang kami bawa berasal dari potensi Garut sendiri. Jadi ketika mendapat Juara 1 dan Most Favorite, rasanya bukan hanya membawa nama sekolah, tetapi juga membawa nama Garut,” ujar Salwa.

Ia berharap keberhasilan tersebut dapat memotivasi siswa lain agar tidak ragu menjadikan potensi daerah sebagai sumber gagasan dan inovasi.

“Di Garut sebenarnya banyak sekali potensi yang bisa dikembangkan. Kami berharap teman-teman pelajar lainnya juga berani melihat apa yang ada di sekitar mereka, lalu mengubahnya menjadi ide yang kreatif dan memiliki nilai,” katanya.

Ke depan, Team SmansaJuara berharap NUWANGI tidak hanya berhenti sebagai karya dalam kompetisi.

Ahkamil mengatakan, gagasan tersebut masih sangat mungkin dikembangkan menjadi produk nyata apabila mendapatkan kesempatan dan dukungan.

“Kami berharap NUWANGI tidak berhenti sebagai business plan di kompetisi saja. Kalau ada kesempatan, tentu kami ingin konsep ini bisa dikembangkan lebih nyata dan benar-benar memberikan manfaat bagi potensi akar wangi Garut,” ujarnya.

Sementara Fardan menilai kompetisi tersebut memberikan pengalaman berharga dalam memahami proses membangun sebuah gagasan usaha.

“Kompetisi ini mengajarkan kami bagaimana sebuah ide harus dipikirkan dari banyak sisi. Ke depan kami ingin terus belajar agar gagasan seperti ini bisa lebih matang dan mungkin benar-benar diwujudkan,” ucapnya.

Salwa pun berharap pencapaian tersebut bisa menjadi bukti bahwa pelajar dari daerah mampu bersaing di tingkat nasional dengan tetap membawa identitas lokal.

“Semoga prestasi ini bisa menjadi motivasi bahwa pelajar Garut juga bisa bersaing di tingkat nasional. Kita tidak perlu meninggalkan identitas daerah untuk membuat sesuatu yang besar, justru potensi daerah bisa menjadi kekuatan,” pungkas Salwa. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *